get app
inews
Aa Text
Read Next : Deteksi Kebocoran, Perumdam Tirta Serayu Kabupaten Banjarnegara Terapkan Sistime SCADA

Sedimentasi Waduk Mrica Menggila, PLTA Terancam Tamat Lebih Cepat!

Sabtu, 22 Maret 2025 | 10:19 WIB
header img
Bupati Banjarnegara (tengah) bersama Dandim 0704 dan Akademisi UI, Imam Prasojo berfoto usai gelar pertemuan membahas isu lingkungan belum lama ini.

BANJARNEGARA,banjarnegara.iNews.id - Sedimentasi yang terjadi di Waduk Mrica Banjarnegara saat ini semakin kritis  dan mengancam keberlanjutan PLTA Mrica Bawang. Hal ini disampaikan Imam Prasojo, seorang akademisi Universitas Indonesia (UI) yang juga aktifis lingkungan saat bertemu Bupati Banjarnegara, dr Amalia Desiana di Rumah Dinas Bupati Banjarnegara, Selasa (18/3/2025). 

Menurut Imam Prasojo, terkait dengan sedimentasi di Waduk Mrica, pihaknya sudah berkoordinasi dengan 5 kabupaten untuk bersama-sama menjaga keberlangsungan Waduk Mrica. Ia bersama tim juga telah melakukan pertemuan dan diskusi dengan para bupati dan telah menyepakati untuk segera melaporkan masalah ini ke Presiden RI Prabowo Subianto.

Menurut akademisi UI ini, tim dari Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesi kemudian besama tim untuk mengobservasi tentang situasi kritis yang ada di Bendungan Mrica. Berdasarkan hasil Observasi,  tim menekankan masalah sedimen bisa diselesaikan secara bertahap dengan  melakukan alih fungsi pertanian kentang dan sayur  menjadi tanaman konservasi.

Berdasarkan penelitian yang dilakukannya, berdasar dengan terjadinya proses perubahan yang tak ramah lingkungan menjadikan kelestarian sungai serayu terancam. Salah satu penyebabnya adalah proses sedimentasi atau pelumpuran yang terjadi secara besar-besaran akibat erosi di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu, terutama di daerah hulu sungai di wilayah Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. 

Di wilayah tersebut, erosi terus menerus terjadi sebagai akibat praktik pertanian yang tidak mempertimbangkan konservasi lingkungan seperti: 
1) penggunaan lereng-lereng bukit yang memiliki kemiringan tinggi, 
2) penggunaan sistem tanam tegak lurus garis kontur, 
3) pemberantasan hama menggunakan pestisida secara berlebihan, 4) banyaknya penyiraman tanaman menggunakan air bor dan air telaga. 

"Selain itu, kerusakan lingkungan menjadi semakin parah ketika banyak bagian hutan yang harusnya dilestarikan ditebang untuk dijadikan lahan pertanian terutama tanaman kentang dan sayur-mayur. Akibat kondisi ini, kini lahan perbukitan mengalami kondisi kritis," katanya. Dampak lebih jauh akibat erosi ini adalah terjadinya pendangkalan serius pada Waduk Mrica yang merupakan obyek vital. 

Menurut kajian PT. Indonesia Power, tingkat sendimentasi yang pada awal pengoperasian waduk ini diperkirakan hanya 2,4 juta m³/tahun sehingga waduk diharapkan dapat beroperasi selama 60 tahun, hingga tahun 2049. 

Namun, sejak beberapa tahun terakhir ini, volume sendimentasi tiap tahun cenderung meningkat, yakni berturut-turut 4,4 juta m³ (2016), 4,06 juta m³ (2017), 2,2 juta m³ (2018), 2,9 juta m³ (2019), 2,7 jutam³ (2020) dan 6,6 juta m³ (2021). Untuk mengurangi besarnya endapan sendimen pada waduk, PT. Indonesia Power secara rutin melakukan penggelontoran lumpur (flushing).

Menurut studi Fitcher (2014), bila flushing dilakukan sebagaimana biasa berdasarkan SOP selama ini (tanpa adanya tambahan volume pembuangan sedimen), kapasitas reservoir diperkirakan akan habis ditahu 2025. Artinya, fungsi PLTA tak lama lagi berakhir, atau setidaknya tak dapat berfungsi normal. Oleh karena itu, upaya pengurangan sendimen harus dilakukan bila umur reservoir ingin difungsikan hingga 2049. 

Namun,sebelum upaya penanganan ekstra dilakukan, tahun lalu terjadi musibah diakibatkan oleh longsornya endapan di area waduk saat flushing dilakukan pada pada 31 Maret 2022 dan tanggal 6 April 2022. Pada saat itu, flushing terpaksa dilakukan dalam volume lebih besar dari biasanya untuk mencegah tertutupnya mesin pembangkit listrik oleh lumpur.

Lumpur Sedimentasi Diusulan Jadi Batu Bata 

Imam juga berkoordinasi dengan berbagi pihak untuk memanfaatkan limbah sedimentasi waduk mrica menjadi berbagai produk yang berguna dan bermanfaat secara ekonomi. Salah satu yang akan memanfaatkannya para pengrajin batu bata di  Desa Panggisari, Kecamatan Mandiraja. 

Imam berharap agar nantinya ada kerjasama saling menguntungkan antara Indonesia Power UBP Mrica dengan para pengrajin atau produsen batu bata merah. "Namun kami juga butuh bantuan dari Bupati Banjarnegara agar batu bata hasil dari sedimentasi bisa di pakai untuk bangunan di Banjarnegara seperti untuk RTLH dan juga bangunan fisik lainnya," lanjut Imam.

Bupati Banjarnegara dr Amalia Desiana menyambut baik masukan dan dukungan dari Imam Prasojo dan para aktifis lingkungan. Ia juga siap mendukung pembuatan batu bata dari hasil sedimentasi waduk mrica untuk kegiatan pembangunan fisik di Banjarnegara.

"Kami sedang membangun RTLH di lokasi bencana. Mudah-mudahan batu bata dari sedimentasi ini bisa menjadi solusi untuk pembangunan fisik. Jika perlu, kami akan menginstruksikan penggunaan batu bata produk Mrica untuk proyek-proyek pemerintah," tegasnya.

Saat bertemu dengan Imam Prasojo, Bupati Banjarnegara didampingi Dandim 0704 Banjarnegara Letkol Czi Teguh Prasetyanto, Sekertaris Daerah Indarto dan kepala OPD terkait. Ikut hadir bersama  Imam Prasojo, Senior Manager PT PLN Indonesia Power Mrica  Nazrul Very Andhi, kepala perhutani BKPH Banyumas timur dan sejumlah aktifis lingkungan asal Banjarnegara.

Editor : Adel

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut